Februari 2026
Inilah Perkataan
“Inilah perkataan yang disampaikan Musa kepada seluruh orang Israel...” (Ulangan 1:1a-TB2)
PENGANTAR
Nama “Ulangan” dalam bahasa Indonesia dimaksudkan untuk menerjemahkan “δευτερονόμιον” (deuteronomion), yang merupakan nama kitab ini dalam Septuaginta (LXX). Nama ini diambil dari Ulangan 17: 18, dimana frasa Ibrani “מִשְׁנֵה הַתֹּורָה הַזֹּאת” (salinan hukum ini) diterjemahkan “τὸ δευτερονόμιον τοῦτο” (hukum kedua ini). Jadi, makna kata “kedua” di sini bukan menunjukkan urutan, melainkan pengulangan.
Dalam teks kuno bahasa Ibrani, nama kitab ini adalah “דְּבָרִים” (devarīm), yang merupakan bentuk jamak dari “דָבָר” (davar). Nama ini diambil dari frasa pertama dalam kitab ini: “אֵלֶּה הַדְּבָרִים” (ellê haddevarīm) atau “inilah perkataan”.
Sebagaimana kitab-kitab PL sebelumnya, nama “Devarīm” (perkataan) juga memiliki signifikansi penting terhadap keseluruhan isi kitab ini. Dimana ada setidaknya empat aspek fundamental yang terkait dengan “perkataan”:
Pertama, perkataan yang bersifat personal. Jika dalam kitab-kitab sebelumnya, narasi-narasinya kebanyakan menggunakan sudut pandang orang ketiga, di kitab Ulangan ini, penulis lebih sering menggunakan kata “aku”. Ini untuk menunjukkan betapa personalnya kitab ini, yang berisi wejangan-wejangan Musa sebelum ia wafat.
Kedua, dari perkataan “hukum” (mishpat) menjadi perkataan “khotbah” (devarīm). Sebelumnya, dalam kitab Imamat, kita disodori dengan berbagai bentuk “hukum”—khususnya hukum keimamatan—maka, dalam kitab Ulangan ini, hukum-hukum itu diulangi dengan pendekatan yang lebih emosional untuk menyentuh hati, bukan sekedar mengatur perilaku.
Ketiga, penjelasan. Kitab ini disebut kitab “Ulangan” sebab berisi pengulangan narasi dan juga hukum dari apa yang sebelumnya sudah pernah dituliskan dalam kitab sebelumnya. Namun, pengulangan dalam kitab ini disertai juga dengan penjelasan atau bisa juga disebut “penafsiran ulang” atas narasi dan hukum yang sudah pernah disampaikan sebelumnya. Karena itu, kitab ini mengikat masa lalu (perjanjian di Sinai) dan sekaligus melihat ke masa depan (kehidupan di Tanah Perjanjian). Perkataan dalam kitab ini menjadi penghubung bagi generasi baru Israel, yang mungkin berpikir bahwa hukum adalah beban tradisi kuno.
Keempat, tradisi lisan. Kitab ini disebut sebagai cikal bakal “Taurat Lisan”, yang merupakan tradisi periwayatan yang sangat kuat dalam Yudaisme. Dalam kitab ini, Musa menyampaikan kembali hukum-hukum Tuhan dengan bahasa yang bisa dipahami oleh umat.
Jadi, dengan membaca kitab ini, maka kita memahami betapa kuatnya “perkataan” itu disampaikan berulang-ulang, sehingga “perkataan” (firman) TUHAN menjadi bisa dipahami dan dihidupi melalui “perkataan” manusia.
***
Catatan:
Fokus ED = Penekanan penting untuk program Ecclesia Domestica
Minggu I (1 Februari 2026) - Septuagesima
KESAKSIAN YANG HIDUP
Ulangan 1-4
Devarīm (perkataan) bukan hanya “menceritakan ulang” atau “bersaksi” tentang pengalaman masa silam, melainkan harus diberikan makna baru pada sebuah kilas balik sejarah. Demikianlah hendaknya kesaksian kita tidak hanya berisi pengulangan, yang miskin makna, melainkan kesaksian yang hidup dan inspiratif secara rohani.
FOKUS ED:
Keluarga memahami pentingnya kesaksian yang hidup dan bermakna.
Artikel Terkait
Minggu II (8 Februari 2026) - Sexagesima
Minggu Epifani
DARI HATI
Ulangan 5-26
Selain berarti “perkataan”, devarīm juga berarti “perkara”. Di bagian ini (Ul. 5-26), Musa menguraikan berbagai perkara hidup, baik ibadah, keluarga, hingga keadilan. Menariknya, Musa membungkus semuanya dengan “bahasa kasih”, sehingga apa yang sebelumnya disebut “hukum” dalam kitab-kitab sebelumnya, di bagian ini menjadi perkataan-perkataan yang lahir dari hati dan disimpan dalam hati.
FOKUS ED:
Keluarga belajar untuk mencintai perintah-perintah TUHAN, dan menyimpannya dalam hati.
Minggu III (15 Februari 2026) – Estomihi
Minggu Transfigurasi Yesus
KEKUATAN PERKATAAN
Ulangan 27-30
Dalam bagian ini, Musa menekankan bahwa “perkataan” (devarīm) memiliki kuasa yang mengikat secara hukum, moral, dan spiritual. Perkataan tidak hanya sebatas angin lalu, sebab setiap kata-kata yang diucapkan dapat menjadi penentu hidup dan mati di masa depan. Karena itu ada peringatan soal “berkat”, “kutuk”, dan “perjanjian”. Semuanya berkaitan erat dengan “perkataan”.
FOKUS ED:
Keluarga belajar untuk “sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN” agar hidupnya diberkati.
Minggu IV (22 Februari 2026) – Invocavit
Minggu Prapaskah I
LEGACY
Ulangan 31-34
Musa menuliskan perkataan dalam bentuk nyanyian dan pengajaran ini sebelum ia wafat. Ia menghendaki agar perkataan seorang pemimpin rohani harus diabadikan agar tetap “berbicara” bahkan setelah ia wafat. Bagi Musa, legacy terbesar adalah pengajaran yang terus hidup dan diwariskan turun-temurun.
FOKUS ED:
Keluarga belajar untuk mewariskan pengajaran firman TUHAN turun-temurun sebagai warisan yang paling berharga.
-oOo-
Penulis:
Yosi Rorimpandei
Koordinator Komisi Pengajaran GKRIDC



