Januari 2024 | Seri Injil Matius

Yesus: Sang Mesias

Matius 16: 16
Bagikan di:

“Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!”
Matius 16: 16

PENGANTAR INJIL MATIUS

Penulis

Menurut tradisi gereja mula-mula, penulis Injil Matius adalah Matius, pemungut cukai yang meninggalkan pekerjaannya dan mengikut Yesus (9: 9-13). Hal ini diperkuat dengan tulisan Papias, Uskup Hierapolis, yang hidup pada tahun 60-130 M. Dalam Injil Markus dan Lukas, ia disebut “Lewi anak Alfeus” (bdk. Markus 2: 14; Lukas 5: 27). Kemungkinan merupakan nama lain Matius yang lebih populer di kalangan orang-orang Kristen mula-mula. Nama “Matius” sendiri dalam teks Yunani disebut “Ματθαῖος” (Matthaios), dari bahasa Aramaik: “ܡܬܝ” (Mattay), yang merupakan bentuk singkat dari bahasa Ibrani: “מַתִּתְיָהוּ” (Mattith-YAHÛ), artinya “anugerah TUHAN”. Dari namanya, ia adalah seorang Yahudi yang menjadi percaya kepada Yesus.

Tetapi, Injil ini pertama kali ditulis anonim, tanpa nama penulis. Judul “Injil menurut Matius” baru ditambahkan di akhir abad pertama atau awal abad kedua Masehi. Banyak ahli Perjanjian Baru meragukan jika Injil ini ditulis oleh Matius, sebagaimana disebutkan Papias. Menurut mereka, penulisnya adalah seorang Yahudi yang hidup di antara nilai-nilai Yahudi tradisional dan nontradisional. Ia menulis dalam “bahasa Yunani sinagoge”, dengan Injil Markus sebagai sumber utama, dimana ada 600 ayat dalam Injil Matius yang memiliki kesamaan dengan Injil Markus. Dari segi gaya dan struktur bahasa, Injil Matius memiliki bahasa Yunani yang lebih baik dibanding Injil Markus.

Injil Matius

Injil Matius termasuk dalam “Injil sinoptik” bersama-sama dengan Injil Markus dan Lukas. Diperkirakan Injil ini ditulis sebelum tahun 100 Masehi.

Sumber utama Injil Matius adalah Injil Markus (56%), tetapi ada juga yang berasal dari sumber Q (24%), yang digunakan bersama-sama dengan Injil Lukas. Selebihnya berasal dari sumber yang eksklusif, yaitu sumber M (20%).

Dari struktur dan teologi yang terkandung dalam Injil ini, maka tujuan utama penulisan Injil ini adalah sebagai bentuk apologetika dengan orang-orang Yahudi atau sebagai modul pengajaran bagi orang-orang Kristen yang berlatar belakang Yahudi. Meski begitu, pembaca mula-mula Injil ini nampaknya tidak sepenuhnya berlatar belakang Yahudi, melainkan jemaat campuran dengan non-Yahudi. Hal ini bisa dilihat dari sudut pandang Matius terhadap orang-orang non-Yahudi. Ia tidak anti terhadap mereka, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok yang harus dirangkul di dalam Kristus.

Matius bahkan memulai kisah kelahiran Yesus dengan kehadiran orang-orang majus, yang merupakan bangsa non-Yahudi. Ia menutup Injilnya dengan amanat pemuridan kepada seluruh bangsa, tidak hanya kepada orang-orang Yahudi.

Namun, nuansa Yudaisme sangat kental dalam Injil ini, antara lain dengan seringnya Matius mengutip ayat-ayat dari Perjanjian Lama. Tema-tema yang diangkat juga sangat dekat dengan orang-orang berlatar belakang Yahudi, bahkan beberapa penafsir melihat Matius sedang menyajikan Yesus sebagai “Musa yang baru”. Jika Musa identik dengan lima kitab Taurat, maka Matius menekankan soal lima bagian khotbah Yesus yang diakhiri pada 8: 1; 11: 1; 13: 53; 19: 1; dan 26: 1, sehingga mereka melihat paralelisasi antara Musa dan Yesus, yang sama-sama sebagai “Pemberi Hukum”. Matius bahkan menekankan bahwa Yesus datang untuk menggenapi (5: 17-48), merangkum (22: 37-40), dan menafsirkan hukum Taurat (23: 23).

Kristologi Matius menekankan tiga gelar Yesus yang sangat penting, yaitu “Guru”, “Anak Daud”, dan “Anak Allah”. Ketiga gelar ini sangatlah erat kaitannya dengan konsep Mesias dalam Yudaisme. Jadi, intinya, Matius berusaha membuktikan kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Mesias yang dijanjikan oleh para nabi. Selain ketiga gelar tersebut, ada juga gelar-gelar lain yang disebutkan, seperti “Anak Manusia”, “Tuhan”, dan gelar-gelar lainnya.

Matius juga menekankan soal pentingnya “pemuridan” (matetologis). Inti dari pemuridan adalah bagaimana orang-orang bisa “melakukan kehendak Allah” (7: 21; 12: 46-50). Pemuridan menjadi kunci dari terbentuknya “jemaat” (ekklēsia), dan mendapatkan penekanan yang kuat. Pesan terakhir Yesus dalam Injil ini juga menekankan soal “pemuridan” (28: 19). Untuk membedakan penekanan soal Kristologi dan matetologi, maka Matius menggunakan istilah “kurang percaya” atau “kekurangan iman” (oligopistos) jika menyangkut Kristologi (bdk. 6: 30; 8: 26; 14: 31; 16: 8). Bandingkan ketika berbicara tentang matetologi dalam 13: 36; 15: 15-16; dan 16: 9, 11, Matius menekankan istilah frazō (jelaskan) dan noieō (mengerti).

Selain itu, Matius juga berbicara tentang soal konsep “kerajaan” (basileia). Beberapa kali Matius menggunakan istilah “kerajaan” (4: 23, 6: 10, 13; 9: 35; dst),  “kerajaan Allah” (6: 33; 12: 28; 21: 31; dst), dan “kerajaan Surga” (3: 2; 4: 17; 5: 3; dst). Kerajaan yang dimaksud oleh Matius bukanlah suatu tempat, melainkan gambaran pemerintahan Allah. Matius menekankan bahwa kerajaan itu bersifat “sudah” (melalui karya pelayanan Kristus), “sedang” (dikerjakan oleh gereja), dan “akan” (eskatologis). Secara khusus, konsep eskatologis dibahas dalam pasal 24 dan 25.

Konsep lain yang juga ditekankan dalam Injil Matius adalah tentang “jemaat” atau “gereja” (ekklēsia). Injil Matius adalah satu-satunya Injil yang menggunakan istilah ekklēsia (16: 18 dan 18: 17). Percakapan Yesus dengan murid-murid-Nya sangat kaya dengan pesan-pesan pengutusan dan nilai-nilai etis jemaat (bdk. 5: 20; 18: 15-22; 28: 19-20).

 

Tahun Baru (1 Januari 2024)
“KUK YANG MENYENANGKAN”
Matius 11: 28-30

FOKUS: “Mesias: Sang Guru Agung”

Pengantar Nats:

Perikop ini hanya dicatat dalam Injil Matius, dan sangat terkait erat dengan konsep Mesias sebagai “Guru”, konsep “pemuridan”, serta konsep “hukum” yang khas Matius. Pada zaman Yesus, “kuk” menjadi istilah penting di kalangan rabinik Yahudi. Kuk adalah lambang pelayanan dan penghambaan, sehingga dikenal istilah “kuk Taurat”, yang menggambarkan penghambaan diri kepada firman Allah. Dalam perikop ini, Tuhan Yesus menawarkan “kuk” yang baru, yang sangat kontras dengan ajakan untuk mendapatkan kelegaan. Tetapi, kelegaan yang Yesus tawarkan hanya bisa diperoleh jika orang percaya mau dimuridkan dengan disiplin yang Yesus kehendaki. Artinya, kita harus mau dididik dan dituntun menurut ajaran Yesus untuk melakukan kehendak BAPA.

Pembahasan:

Seorang guru yang baik tentulah akan mendidik dan menuntun muridnya dengan model disiplin yang tepat. Tujuannya adalah supaya muridnya bisa berhasil menjadi orang yang cerdas dan juga berkarakter baik. Matius memperkenalkan Mesias sebagai “Sang Guru Yang Baik”. Ia adalah “Guru Hikmat” yang dinanti-nantikan. Ia ingin agar kita menjadi murid-murid-Nya yang siap memikul “kuk”, yang Ia berikan kepada kita. Dengan mengenakan kuk itu, maka kita siap hidup menurut didikan dan tuntunan-Nya. Bagaimana sikap kita agar memiliki hati sebagai murid yang siap dibentuk menurut kehendak Allah agar tahun ini kita menjadi orang-orang yang memiliki karakter Kristus?

Minggu I (7 Januari 2024) – Minggu Epifania
“BIARLAH HAL ITU TERJADI”
Matius 3: 13-17

FOKUS: “Mesias yang Taat dan Merendahkan Diri”

Pengantar Nats:

Setelah peristiwa penyingkiran keluarga Yusuf dan Maria ke Mesir akibat pembunuhan besar-besaran terhadap anak-anak berumur dua tahun ke bawah oleh Herodes (2: 16-23), tidak ada lagi cerita tentang kehidupan masa kecil Yesus yang dicatat oleh Matius. Bagi orang-orang Yahudi, masa kecil merupakan masa untuk belajar melalui tahapan-tahapan pendidikan mulai dari dalam rumah, Beth Sefer, dan seterusnya. Menjelang usia 30 tahun, biasanya pria dewasa sudah menyelesaikan sampai pendidikan tertinggi dan layak disebut “Rabbi” (Master/ Guru). Di perikop ini, Yesus diperkirakan memasuki usia 30 tahun dan untuk pertama kalinya tampil di depan publik. Ketika itu Yohanes Pembaptis sedang membaptis orang-orang di Sungai Yordan. Markus, Lukas dan Yohanes juga mencatat peristiwa ini (bdk. Mrk. 1: 9-11; Luk. 3: 21-22; Yoh. 1: 32-34), tetapi Matius yang lebih detail mengutip percakapan antara Yesus dan Yohanes Pembaptis mengenai alasan kenapa Yesus harus dibaptis. Hal ini penting, sebab baptisan Yohanes adalah “tanda pertobatan” (metanoia) (ay. 11). Baptisan ini merupakan ritual umum di komunitas Yahudi sebagaimana dicatat dalam Serekh Hayakhad (Aturan Komunitas), salah satu dari teks-teks yang ditemukan di Qumran, Laut Mati (DSS). Sementara, Yesus sendiri adalah Pribadi yang tanpa dosa. Matius mencatat bahwa seharusnya Yesus tidak perlu dibaptis, justru Yohaneslah yang seharusnya dibaptis oleh Yesus, tetapi Yesus mendesak Yohanes agar ketetapan/ hukum Allah (dikaiosunē) bisa digenapi (ay. 15). Jadi, ada dua hal penting dari peristiwa pembaptisan Yesus ini: Pertama, waktu kemunculan Yesus ke publik sesuai tradisi Yahudi, dan kedua, kerelaan-Nya untuk dibaptis menurut aturan komunitas/ hukum Taurat.

Pembahasan:

Hari Epifania atau Epifani dirayakan oleh gereja mula-mula setiap tanggal 6 Januari untuk memperingati empat peristiwa sekaligus, yaitu kelahiran Yesus, kedatangan orang-orang majus, pembaptisan Yesus, dan pernikahan di Kana. Tahun ini, Minggu Epifani dirayakan pada 7 Januari. Secara harfiah, epifani berarti “penampakan”, untuk merayakan pemunculan Yesus di dunia. Dalam peristiwa baptisan Yesus, kita belajar bagaimana Yesus dimuliakan dengan cara tunduk dengan kerendahan hati terhadap tradisi dan aturan manusia. Ia dibaptis bukan untuk menanggalkan dosa, tetapi supaya Ia bisa tenggelam bersama ke dalam pergumulan hidup manusia. Bagaimana sikap kita untuk menumbuhkan ketaatan dan kerendahan hati seperti Kristus?

Minggu II (14 Januari 2024)
“MENGAPA KAMU TAKUT?”
Matius 8: 23-27

FOKUS: “Mesias yang Ilahi”

Pengantar Nats:

Kisah Yesus meredakan “angin ribut” dicatat juga oleh Markus dan Lukas (bdk. Mrk. 4: 35-41; Luk. 8: 22-25). Berbeda dengan Markus dan Lukas, yang sama-sama menggunakan istilah “lailaps” (taufan), Matius justru menggunakan istilah seismos (badai), yang juga berarti “gempa bumi” (bdk. Mat. 27: 54; 28: 2). Hal kedua yang membedakan tulisan Matius dengan dua Injil lainnya adalah seruan murid-murid Yesus. Matius menggunakan kalimat: “Kurie, sōson!” (ay. 25). Kalimat ini diawali dengan sapaan “Kurie” (Tuhan), yang menekankan ketuhanan atau kuasa Kristus [bdk. Markus menggunakan istilah “didaskale” (Mrk. 4: 38), Lukas menggunakan istilah “epistata” (Luk. 8: 24)]. Uniknya, ketuhanan Kristus ini dikontraskan dengan kemanusiaan-Nya, yang digambarkan dengan “tidur” (ay. 24). Selain itu, kalimat “Kurie, sōson!” juga merupakan kalimat doa. Penggunaan kalimat doa ini memperkuat Kristologi Matius, bahwa Yesus bukanlah Mesias seperti yang dipahami orang-orang Yahudi saat itu, melainkan Mesias yang ilahi. Hal ketiga yaitu penggunaan istilah khas Matius, yaitu “oligopistos” (ay. 26 bdk. 6: 30; 14: 31; 16: 8). Istilah ini pun berkaitan dengan konsep Kristologi Matius (lihat Pengantar Injil Matius di atas).

Pembahasan:

Bulan lalu kita membahas cerita ini menurut versi Lukas, yang memaklumi “rasa takut” sebagai ekspresi manusiawi dalam merespons badai: “Iman mengalahkan rasa takut”. Kali ini kita membahas dari sudut pandang Matius, yang fokus pada konsep Kristologi: “Iman harus ditujukan kepada Yesus, yang ilahi dan berkuasa”. Bagaimana supaya kita tetap fokus pada Kristus meskipun menghadapi badai dalam hidup?

Minggu III (21 Januari 2024)
“SIAPAKAH AKU?”
Matius 16: 13-20

FOKUS: “Mesias, Anak Allah yang hidup”

Pengantar Nats:

Matius, Markus, dan Lukas sama-sama mencatat kisah pengakuan Petrus. Markus mencatat jawaban Petrus, “Engkau adalah Mesias!”, Lukas mencatat, “Mesias dari Allah”, sedangkan Matius mencatat respons Petrus yang lebih panjang, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”. Dalam Injil Matius, sebutan “Anak Allah” selalu berkaitan dengan keilahian Yesus. Sebutan ini pertama kali muncul dalam Mat. 4, digunakan oleh Iblis ketika mencobai Yesus. Pengakuan orang-orang pertama kali ketika murid-murid melihat Ia berjalan di atas air (Mat. 14: 22-33). Selain mencatat jawaban Petrus yang lebih panjang, Matius juga mencatat tanggapan Yesus atas jawaban Petrus, dimana Petrus disapa dengan nama “Simon bin Yunus” dan diberi nama baru, “Petrus” (Yunani: Petros), yang kemudian dikaitkan dengan kata “petra” (batu karang) (ay. 18). Di dalam gereja, terjadi perbedaan tafsir terhadap kata “petra” ini. Gereja Katolik menyebut bahwa kata petra ini merujuk kepada Rasul Petrus, dimana kemudian ia menjadi uskup pertama di Roma. Sementara, Gereja Protestan ada yang merujuk pada “pengakuan Petrus”, ada juga yang merujuk pada “persekutuan murid-murid Yesus”. Dari pengakuan Petrus, Yesus mendeklarasikan akan berdirinya “gereja” atau “jemaat” (ekklēsia).

Pembahasan:

Gereja atau jemaat dibangun di atas pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Yesus mengharapkan kita mencapai pengakuan ini bukan berdasarkan apa kata orang, melainkan pengakuan yang muncul dari dalam hati, seperti pengakuan Rasul Petrus. Karena itu, sangatlah penting jika orang-orang percaya mengalami perjumpaan pribadi dengan Yesus, sehingga tidak hanya memiliki “pengetahuan” tentang Yesus, melainkan juga “pengenalan” akan Dia. Bagaimana supaya kita dapat memiliki pengenalan yang baik akan Kristus?

Minggu IV (28 Januari 2024)
“PELITA YANG TAK PADAM”
Matius 25: 1-13

FOKUS: “Kerajaan Surga”

Pengantar Nats:

Perumpamaan tentang gadis-gadis yang bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh hanya dicatat dalam Injil Matius. Perumpamaan ini berbicara tentang salah satu konsep penting dalam tulisan Matius, yaitu tentang “Kerajaan Surga”. Dalam pemikiran Yudaisme, Kerajaan Surga (Ibrani: malkhūth shamayim) disebut juga “Kerajaan Mesias” (Aramaik: malkhūth dimshīkha’) dan “Kerajaan Allah” (Ibrani: malkhūth Elohīm atau malkhūth shadday; Aramaik: malkhutha de’Elaha). Istilah-istilah ini mewakili konsep “Kerajaan Surga” itu sendiri, yaitu kerajaan “damai sejahtera” (menghadirkan surga ke dalam dunia ini, bdk. Mat. 6: 10), kerajaan dimana Allah yang memerintah, dan kerajaan dimana Mesias bertindak sebagai raja. Matius menyebutkan bahwa Kerajaan Surga merupakan fokus pelayanan dan pemberitaan Kristus (bdk. 3: 2; 4: 17, 23; 10: 7; dst). Kerajaan itu telah hadir di dunia melalui kehadiran Kristus, tetapi juga akan sempurna pada akhir zaman (eskatologis). Terkait konsep eskatologis, Matius menekankan soal tanda-tanda akhir zaman, baik tanda-tanda umum (24: 4-14) maupun tanda-tanda khusus (24: 15-28). Matius mencatat dengan seksama peringatan-peringatan Yesus tentang akhir zaman, kemungkinan karena ia berhadapan dengan orang-orang yang sedang kebingungan dengan kabar-kabar kedatangan kembali Tuhan Yesus, terutama setelah Yerusalem dikepung dan dihancurkan oleh Romawi pada tahun 70 M. Pada waktu itu, Bait Suci Kedua dihancurkan, dan ini pun disorot oleh Matius (bdk. 24: 1-2). Namun, meskipun tanda-tanda akhir zaman begitu kasat mata, tetapi waktunya tidak terduga (ay. 13). Karena itu, tugas orang-orang percaya digambarkan seperti gadis-gadis yang bijaksana, yaitu senantiasa “berjaga-jaga” dan menantikan waktu kedatangan Kristus dengan tetap membawa “terang” (pelita) sembari menyediakan “minyak” dalam “buli-buli”.

Pembahasan:

Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk “berjaga-jaga” terhadap banyak hal menjelang kedatangan kembali Tuhan Yesus (parousia), baik terhadap “penderitaan” (24: 9), “kemurtadan” (24: 10), “penyesatan” (24: 11), maupun “kedurhakaan” (24: 12). Namun, perintah Yesus sangatlah jelas, yaitu supaya kita tidak fokus pada “tanda-tanda” apalagi pada soal “waktu” kedatangan Yesus, melainkan pada tugas panggilan kita di tengah dunia. Bagaimana supaya pelita kita tetap menyala menjelang kedatangan kembali Tuhan Yesus?

Bagikan di:

Penulis:

Yosi Rorimpandei

Koordinator Komisi Pengajaran GKRIDC

Pelayanan Kategorial

DC Kids

Pelayanan Anak
0895-1771-8474

Youth Habakuk

Pelayanan Remaja & Pemuda
0821-1303-2727

Debora

Pelayanan Kaum Perempuan
0812-9744-1129

Efata

Pelayanan Kaum Pria
0853-1083-3921

Permohonan Doa

Jika Saudara membutuhkan dukungan doa khusus untuk didoakan di setiap jam doa kami, silakan mengisi Form Permohonan Doa.

Klik Di Sini

Kontak

Kontak Kami

Jika Saudara membutuhkan informasi atau layanan konseling, silakan menghubungi kami.

Alamat:

KAPEL ALFA
Taman Alfa Indah Blok J-1 No. 39
Jakarta Selatan

WhatsApp:

+62815-1341-3809