Seri Injil Yohanes

Yesus: Firman Menjadi Manusia

Yohanes 1: 14
Bagikan di:

“Firman itu telah menjadi manusia, dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh anugerah dan kebenaran”
Yohanes 1: 14

PENGANTAR INJIL YOHANES

Penulis

Seperti halnya Injil Matius, Markus dan Lukas, Injil Yohanes juga awalnya ditulis secara “anonim” (tidak mencantumkan siapa penulisnya). Dalam Yohanes 21: 20-25 disebutkan bahwa penulis Injil ini adalah “murid yang dikasihi Yesus” (ton mathētēn hon hēgapa ho Iēsous), tetapi tidak disebutkan siapa namanya (bdk. 13: 23; 19: 26; 20: 2; 21: 7). Barulah dalam tulisan Irenaeus, salah satu bapak gereja yang hidup pada tahun 130-202 M, disebutkan bahwa penulis Injil ini adalah Yohanes, salah satu murid Tuhan Yesus. Menurut tulisan Irenaeus itu, Yohanes adalah rasul yang sudah lanjut usianya. Ia tinggal di Efesus, dan diminta oleh para penatua di Asia untuk menulis Injil guna melawan ajaran sesat (Gnostik), yang dikembangkan oleh seorang Yahudi yang berpengaruh bernama Kerinthus.

Meski begitu, pandangan ini tidak banyak diterima oleh sebagian ahli Perjanjian Baru. Alasannya adalah karena adanya penggunaan bahasa Yunani yang baik, “sastra dan bahasa simbolik yang tinggi”, serta pemikiran teologi yang “rumit”. Sementara, Yohanes murid Yesus adalah seorang nelayan biasa. Ia adalah saudara dari Yakobus. Ayah mereka bernama Zebedeus. Mereka sering mencari ikan di Danau Galilea (bdk. Mat. 4: 18-22; Mrk. 1: 16-20; Luk. 5: 1-11).

Beberapa penafsir mengatakan bahwa Injil ini bersumber dari “kesaksian” (marturia) murid yang dikasihi Yesus (21: 24). Mungkin saja “kesaksian” itu berbentuk tulisan atau lisan, yang kemudian dikumpulkan, dilestarikan, dan disusun kembali oleh komunitas orang percaya, yang disebut dengan “kata ganti orang pertama jamak” (“kita” atau “kami”) dalam 21: 24. Komunitas inilah yang kemudian disebut “komunitas Yohanin” oleh para ahli abad ke-20. Sementara, ay. 25 diperkirakan ditambahkan oleh pengikut lain, yang menggunakan “kata ganti orang pertama tunggal” (“aku” atau “saya”).

Para ahli memperkirakan bahwa bentuk akhir Injil Yohanes ditulis pada tahun 90-110 M di Efesus (Asia Kecil), dan ditujukan kepada pembaca mula-mula yang merupakan jemaat yang heterogen. Mereka adalah orang-orang yang dipengaruhi secara luas oleh budaya Yunani, tetapi mereka merupakan percampuran antara orang-orang berlatar belakang Yahudi dan Yunani di luar Palestina.

Injil Yohanes berkali-kali mengutip dari Perjanjian Lama (PL). Ada 14 kutipan langsung dari PL, tetapi kebanyakan di antaranya tidak memiliki kecocokan dengan versi naskah kuno PL mana pun yang pernah diketahui.

Injil Yohanes juga memiliki beberapa kisah, kosa kota dan kronologi cerita yang serupa dengan Injil Matius dan Lukas, tetapi istilah-istilah kunci yang digunakan oleh Matius dan Lukas justru tidak digunakan oleh Yohanes, sehingga sebagian ahli menyimpulkan bahwa Yohanes ditulis secara bebas, tanpa terlalu terikat kaku dengan sumber-sumbernya.

Injil Yohanes

Injil Yohanes sangatlah berbeda dibanding ketiga Injil sinoptik (Matius—Markus—Lukas). Injil ini mencatat lebih banyak hal mengenai pelayanan Yesus di wilayah Yudea dan Yerusalem, yang tidak dicatat dalam Injil sinoptik. Injil ini juga lebih menekankan pada makna mendalam dari kehidupan, perbuatan dan perkataan Yesus. Ia berkali-kali menggunakan kata sēmeion (tanda/ mujizat), tetapi tidak hanya fokus pada tindakan mujizat atau keajaiban yang Yesus lakukan, melainkan juga makna teologis dibalik sēmeion itu.

Penggunaan angka “tujuh” sangat menonjol dalam Injil ini. Ada “tujuh” sēmeion  (2:1-11; 4:46-54; 5:2-18; 6:1-15; 6:16-21; 9:1-41; 11:1-46), “tujuh” ajaran (3:1-21; 4:4-42; 5:19-47; 6:22-59; 7:37-44; 8:12-30; 10:1-21), dan “tujuh” perkataan “Akulah” (egō eimi) (6: 35 “roti kehidupan”; 8: 12 “terang dunia”; 10: 7 “pintu”; 10: 11 “gembala yang baik”; 11: 25 “kebangkitan dan hidup”; 14: 6 “jalan dan kebenaran dan hidup”; 15: 1 “pokok anggur yang benar”). Penggunaan angka “tujuh” ini sangat mirip dengan kitab Wahyu, yang juga dipercaya berasal dari penulis yang sama.

Selain soal “tanda”, ada juga beberapa istilah kunci yang sering digunakan dalam Injil Yohanes, yaitu “firman” (logos), “terang” (fōs), “daging” (sarx), “kasih” (agapē), “kesaksian” (marturia), “tahu” (eidō), “kegelapan” (skotia), dan “dunia” (kosmos).

Secara teologi, Injil Yohanes menekankan pandangan “Kristologi dari atas”, yang menekankan soal keilahian dan kepraadaan Yesus. Pandangan Injil Yohanes ini merupakan bentuk apologia terhadap serangan orang Yahudi yang menuduh Yesus telah “menyamakan diri-Nya dengan Allah” (bdk. 5: 18). Dalam pendahuluannya, Injil Yohanes memperkenalkan Yesus sebagai Sang Logos, suatu istilah filosofis Yunani yang berpadanan dengan istilah teologis Yahudi tentang Firman Allah.

Pandangan teologis lainnya yang unik dalam Injil Yohanes adalah tentang konsep penyaliban. Injil Yohanes tidak menekankan konsep penyaliban dengan konsep penebusan atau pendamaian dalam pemikiran Yahudi atau Perjanjian Lama, tetapi memandang penyaliban sebagai bentuk pemuliaan Kristus untuk kembali kepada Sang Bapa. Untuk itu, Injil Yohanes mengganti kabar kematian Yesus—yang lazim dalam Injil-injil Sinoptik—dengan kabar bahwa Ia akan “ditinggikan” (hupsōthēnai) (3: 14; 8: 28; 12: 32).

***

 

Minggu I (7 April 2024)
FIRMAN MENJADI MANUSIA
Yohanes 1: 1-18

FOKUS: Konsep “Anak Tunggal Bapa”

Pengantar Nats:

Yohanes atau Yohanin adalah satu-satunya penulis Perjanjian Baru yang menyebut Yesus adalah “Logos” (bdk. Wahyu 19: 13). Para penafsir Perjanjian Baru menyebut bahwa istilah ini berasal dari filsafat Yunani Kuno, filsafat Stoa, dan juga dari pemikiran Yudaisme, khususnya Filo Judaeus. Teologi Injil Yohanes ini dikaitkan pertama-tama dengan konsep logos spermatikos, yang merupakan prinsip generatif alam semesta (bdk. ay. 3-10). Selanjutnya, berkaitan juga dengan konsep logos endiathetos (firman yang dipikirkan) dan logos proforikos (firman yang diucapkan), yang menjelaskan tentang relasi antara Bapa dan Anak.

Pembahasan:

Perikop ini menjelaskan mengenai konsep keilahian Kristus, yang dimulai dengan permulaan-Nya atau kepradaan-Nya (en arkhē) sebagai Firman (ay. 1), dan pribadi-Nya yang “bersama-sama” (ēn pros) atau terpisah secara substansi dengan Allah (ay. 1-2) dan sekaligus “adalah” (ēn) Allah atau sehakikat dengan Allah (bdk. konsep logos endiathetos). Ia “keluar” (dilahirkan), bahkan menjadi “satu-satunya yang keluar” dari Bapa dan “menjadi manusia” (ay. 13-14) (bdk. konsep logos proforikos). Itulah sebabnya Tuhan Yesus disebut “Anak Tunggal Bapa” (ay. 14). Bagaimana memaknai keilahian Kristus dalam konteks kehidupan iman orang percaya?

Minggu II (14 April 2024)
MAUKAH ENGKAU SEMBUH?
Yohanes 5: 1-18

FOKUS: Membahas salah satu dari “Tujuh Tanda”

Pengantar Nats:

Mujizat menjadi teologi penting dalam Injil, baik Injil-injil Sinoptik maupun Yohanes. Namun, berbeda dengan Injil-injil Sinoptik yang menggunakan istilah dunamis (kuasa/ kekuatan), maka Injil Yohanes menggunakan kata semeion atau “tanda”. Jadi, jika bagi Injil-injil Sinoptik, mujizat adalah sebuah karya kuasa Kristus, maka bagi Injil Yohanes, mujizat adalah penyingkapan tanda Kristus. Misalnya ketika Yesus memberi makan lima ribu orang, menekankan tanda bahwa Ia adalah “roti hidup”. Karena itulah, Injil Yohanes sangat cermat memilih mujizat-mujizat Yesus. Ia hanya memilih tujuh mujizat penting yang berkaitan dengan teologi “tanda”, salah satunya penyembuhan di kolam Betesda ini.

Pembahasan:

Peristiwa penyembuhan di kolam Betesda menjadi “tanda” (semeion) bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh adalah “air yang hidup”, mengonfirmasi pernyataan Tuhan Yesus kepada perempuan Samaria (4:1-42). Air sendiri adalah salah satu analogi yang sering digunakan dalam Perjanjian Lama untuk menggambarkan “Firman” (logos) (bdk. Mzm. 1:3; 23:2; dsb). Sebagai Sang Firman, Kristus menawarkan penyembuhan, bahkan pemulihan (bdk. ay. 14) melampaui batasan-batasan keadaan (ay. 7) dan batasan-batasan Hukum Taurat (bdk. ay. 9-12). Bagaimana mengimplementasikan kuasa firman sebagai penyembuh dan pemulih bagi orang percaya?

Minggu III (21 April 2024)
POKOK ANGGUR YANG BENAR
Yohanes 15: 1-8

FOKUS: Membahas salah satu dari tujuh perkataan “Akulah...”

Pengantar Nats:

Frasa “egō eimi” (“Aku adalah...” atau “Akulah”) merupakan frasa penting dalam Injil Yohanes. Frasa ini dikaitkan dengan teologi Deutero-Yesaya (Yesaya 40-55) yang juga banyak menggunakan frasa yang sama, yang dalam bahasa Ibrani menggunakan frasa “anî hû” (bdk. Yes. 41:4; 43:10; 51:12, dsb). Tetapi, ada juga yang mengaitkan dengan Kel. 3: 14 “ehyê asher”, yang juga diterjemahkan egō eimi dalam Septuaginta. Keterkaitan ini mempertegas Kristologi Injil Yohanes bahwa Yesus adalah Sang Firman (logos) yang sehakikat dengan Sang Bapa.

Pembahasan:

Dalam Perjanjian Lama, istilah “pokok anggur” biasanya ditujukan kepada umat Israel, tetapi mereka adalah pokok anggur yang tidak berbuah baik (bdk. Yer. 2: 21; Yes. 5: 1-7; Yeh. 15: 1-8; dsb). Tuhan Yesus adalah “pokok anggur yang benar” (ampelos hē alēthinē), sedangkan orang-orang percaya dianalogikan sebagai “ranting-ranting”. Ranting yang baik tentulah menghasilkan buah yang banyak, dan buah yang banyak hanya mungkin dihasilkan jika ranting-ranting itu tetap ada di dalam pokoknya (ay. 4). Ranting-ranting yang tidak berbuah, dibersihkan dengan “firman” (ay. 3). Bagaimana sikap orang percaya agar tetap tinggal di dalam firman Kristus?

Minggu IV (28 April 2024)
KUDUSKANLAH MEREKA
Yohanes 17: 1-26

FOKUS: Kristus dan Gereja

Pengantar Nats:

Dalam pasal 13-21, Injil Yohanes menekankan perhatian Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya, sekaligus menggambarkan teologi Injil Yohanes tentang gereja (ekklesiologi). Ekklesiologi Injil Yohanes sebenarnya sudah dengan tegas digambarkan dengan analogi “gembala” dan “pokok anggur” pada pasal-pasal sebelumnya, tetapi semakin kuat mulai pasal 13 dan puncaknya pada pasal 21, terutama dengan adanya perintah “gembalakanlah domba-domba-Ku” kepada Rasul Petrus (21: 15-19).

Pembahasan:

Perikop ini berisi Doa Perpisahan Tuhan Yesus, sebab doa ini dipanjatkan sebelum Tuhan Yesus ditangkap dan memulai perjalanan sengsara-Nya. Selama berabad-abad, doa ini disebut “Doa Imam Agung”, dimana Tuhan Yesus menahbiskan persekutuan orang-orang percaya, serta mendoakan kesatuan dan pemeliharaan terhadap gereja. Bagaimana orang-orang percaya memaknai tugas dan peran gereja dengan bercermin pada doa Tuhan Yesus?

Bagikan di:

Penulis:

Yosi Rorimpandei

Koordinator Komisi Pengajaran GKRIDC

Pelayanan Kategorial

DC Kids

Pelayanan Anak
0895-1771-8474

Youth Habakuk

Pelayanan Remaja & Pemuda
0821-1303-2727

Debora

Pelayanan Kaum Perempuan
0812-9744-1129

Efata

Pelayanan Kaum Pria
0853-1083-3921

Permohonan Doa

Jika Saudara membutuhkan dukungan doa khusus untuk didoakan di setiap jam doa kami, silakan mengisi Form Permohonan Doa.

Klik Di Sini

Kontak

Kontak Kami

Jika Saudara membutuhkan informasi atau layanan konseling, silakan menghubungi kami.

Alamat:

KAPEL ALFA
Taman Alfa Indah Blok J-1 No. 39
Jakarta Selatan

WhatsApp:

+62815-1341-3809