Film His Only Son: Abraham dan Yesus

Bagikan di:

Film His Only Son yang digarap oleh sutradara David Helling menjadi viral di Indonesia sejak penayangannya diminta untuk dihentikan oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI yang membidangi agama dan sosial Tubagus Ace Hasan Syadzily. Ace menilai film ini penuh dengan kontroversial karena tidak sesuai dengan perspektif agama Islam. Menurut politikus Partai Golkar Dapil Banten ini, film His Only Son sama sekali tidak menyinggung soal keberadaan Ismael dan Hagar (Alquran: Ismail dan Siti Hajar).

Sementara, pimpinan Komisi VIII lainnya dari Fraksi PKB Luqman Hakim meminta agar pihak bioskop memberikan disclaimer atau pengumuman terbuka bahwa film ini tidak sesuai dengan sejarah dan ajaran Islam tentang keluarga Nabi Ibrahim.

Alur Cerita Film

Film His Only Son memiliki alur cerita yang tidak sepenuhnya linier. Ada berbagai kilas balik kehidupan Abraham yang diangkat dalam film ini di sepanjang perjalanan Abraham menuju ke salah satu gunung atau bukit di tanah Moria. Gunung ini disebut Gunung Moria dalam 2Tawarikh 3:1, dimana Salomo mendirikan Bait Suci. Tetapi, karena luasnya tanah Moria, maka ada juga penafsir yang berpandangan bahwa gunung atau bukit yang dimaksud adalah Bukit Sion. Pandangan lain mengatakan bahwa gunung atau bukit itu adalah Golgota atau Bukit Kalvari, tempat dimana Tuhan Yesus disalibkan. Mungkin karena pandangan inilah maka cerita His Only Son berakhir pada peristiwa penyaliban Tuhan Yesus.

Cerita film diawali dengan penampakan Tuhan kepada Abraham, dimana Tuhan memerintahkannya untuk mempersembahkan Ishak sebagai kurban. Di sinilah konflik batin Abraham disajikan sedemikian rupa untuk mengajak kita mendalami pergumulan psikologis seorang ayah, ketika ia diperhadapkan dengan situasi antara tunduk kepada Tuhan dan kasih kepada anaknya.

Sebelum berangkat, Abraham memberi tahu Sara mengenai keinginannya untuk mempersembahkan kurban di Gunung Moria sesuai permintaan Tuhan. Ia tidak memberi tahu Sara jika kurban yang akan dipersembahkan adalah Ishak, anak mereka, sehingga kekhawatiran Sara justru tentang perjalanan yang jauh dan berbahaya. Itulah sebabnya Sara menanyakan kepada Abraham kenapa tidak mempersembahkan kurban di kemah mereka saja, yang mana hal itu tentu saja sudah menjadi kebiasaan Abraham.

Bagian dialog Abraham dan Sara ini tentu saja tidak berasal dari Alkitab, sebab dalam Alkitab sesudah Tuhan berbicara dengan Abraham, keesokan harinya pagi-pagi ia bangun dan langsung bersiap ke Moria.

Dalam film ini juga diceritakan bahwa Abraham mengajak dua pemuda, yaitu Kelezar, putra dari Eliezer, dan Eshcolom. Dua nama ini juga tidak bersumber dari Alkitab ataupun tradisi orang-orang Yahudi. Dalam Kejadian 22:3 tidak disebutkan nama dua pemuda yang diajak Abraham. Sementara, dalam Targum Yonathan disebutkan bahwa dua pemuda itu adalah Ismael, anaknya sendiri yang datang menemui ayahnya, dan Eliezer, hambanya.

Selanjutnya, film berdurasi 1 jam 46 menit ini mengungkapkan apa yang terjadi sepanjang perjalanan ke Moria. Di dalamnya, sang sutradara melakukan serangkaian kilas balik perjalanan hidup Abraham, mulai dari perjumpaannya dengan Tuhan hingga kelahiran Ishak.

Fokus cerita adalah menyajikan sosok Abraham sebagai pribadi yang memegang teguh imannya kepada Tuhan, sementara Sara, istrinya, digambarkan sebagai pribadi yang berlawanan secara spiritual. Ia kerap ragu, marah dan memrotes Tuhan.

Bagian lain yang menarik dari film ini adalah percakapan Abraham dengan kedua pemuda. Di satu sisi, Eshcolom digambarkan sebagai pemuda yang membenci Abraham, sementara Kelezar adalah pemuda yang berusaha membela Abraham. Abraham pun diceritakan berusaha mengkhotbahi Escholom tentang imannya dengan sistematika khotbah yang khas penginjilan ala Protestan.

Bisa dimaklumi sebab Helling, sang sutradara, adalah seorang Kristen. Ia adalah seorang veteran perang Irak, yang dalam kesaksiannya ia mengaku mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan selama perjalanannya sebagai tentara AS dalam tugas lima tahun di Irak. Selama bertugas, ia selalu membawa Alkitab. Sejak itu, ia semakin terobsesi untuk menyajikan kisah-kisah Alkitab ke layar lebar.

Melanjutkan kisah Abraham dengan kedua pemuda dalam perjalanan ke Moria, diceritakan bahwa Escholom tidak bisa memahami iman Abraham, bahkan mencoba menentangnya ketika mereka tiba di Moria. Lagi-lagi, Kelezar tampil sebagai pendukung setia Abraham dengan mencegah Escholom membatalkan tindakan Abraham.

Kehadiran Escholom dan Kelezar mengingatkan kita mengenai dua pribadi yang disalibkan bersama-sama dengan Tuhan Yesus, dan sepertinya ke sanalah Helling menuntun kita dalam filmnya ini.

Dialog antara Abraham dan Ishak di Moria juga mengingatkan kita akan doa Tuhan Yesus di Taman Getsemani. Ishak bertanya kepada ayahnya apakah ada pilihan lain, tetapi Abraham menjawab bahwa ia sudah berdoa dan Tuhan diam saja. Ishak pun akhirnya tunduk kepada perintah Tuhan.

Di bagian credits scene, kita pun disajikan serangkaian ayat yang biasanya digunakan dalam penginjilan, seperti Roma 3:23, 6:23, dan 2Korintus 5:21 disertai dengan sedikit penjelasan.

Bagikan di:

Penulis:

Yosi Rorimpandei

Koordinator Komisi Pengajaran GKRIDC

Pelayanan Kategorial

DC Kids

Pelayanan Anak
0895-1771-8474

Youth Habakuk

Pelayanan Remaja & Pemuda
0821-1303-2727

Debora

Pelayanan Kaum Perempuan
0812-9744-1129

Efata

Pelayanan Kaum Pria
0853-1083-3921

Permohonan Doa

Jika Saudara membutuhkan dukungan doa khusus untuk didoakan di setiap jam doa kami, silakan mengisi Form Permohonan Doa.

Klik Di Sini

Kontak

Kontak Kami

Jika Saudara membutuhkan informasi atau layanan konseling, silakan menghubungi kami.

Alamat:

KAPEL ALFA
Taman Alfa Indah Blok J-1 No. 39
Jakarta Selatan

WhatsApp:

+62815-1341-3809